+62 821-1898-9798

Sustainable Cikapundung

Program Kami

Sekilas Kota Bandung

Bandung merupakan kota cekungan dengan bebukitan nan indah mengelilinginya (walau sudah tampak tidak hijau lagi). Kota dengan luas area mencapai 16.729 hektar barang tentu tidaklah sebanding dengan jumlah penduduk saat ini. Penduduk yang semakin padat tersebut menambah persoalan bagi pemerintah kota dalam pengelolaan tata ruang. Tidaklah mungkin tentunya mengelola kota yang masyarakatnya masih belum memahami persoalan kota itu sendiri. Kota tidaklah berdiri sendiri. Aspek lingkungan yang kembuat fenomena citraan kota menjadikan para urban datang ke kota tersebut.

Kota Bandung yang berbentuk mangkuk itu mempunyai sejarah sebagai kota hijau (green city). Tidaklah aneh menjadikan turis dari mancanegara datang ke Kota Bandung. Namun, sejarah tinggalah sejarah. Kini keadaan Kota Bandung menjadi rumit, serumit persoalan Sungai Cikapundung yang malang. Padahal, Sungai Cikapundung adalah sungai yang membelah Kota Bandung, yang seharusnya memberikan daya tarik wisata dalam kota.

Daerah aliran sungai (DAS) Cikapundung

Daerah aliran sungai (DAS) Cikapundung meliputi wilayah seluas 15.386,5 hektar dengan wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Sungai Cikapundung berhulu di Gunung Bukit Tunggul, mengalir melalui kota dan mengalir melalui Kabupaten Bandung dan bermuara di Sungai Citarum yang melintasi 9 kecamatan, 13 kelurahan, dan 124 RW yang berada di wilayah Bandung Barat dan kota Bandung, sehingga sampah dan limbah yang disebabkan masyarakat Bandung Barat akan mempengaruhi jumlah volume sampah di kota Bandung. Panjang Sungai Cikapundung mencapai 28.000 meter dengan lebar sungai di hulu 22 meter dan di hilir 26 meter. Dengan debit air minimum 6 meter kubik per detik.

Sungai Cikapundung menjadi korban akibat kepadatan penduduk dan kurangnya kesadaran masyarakat

Jangankan dipakai minum, untuk menyiram tanaman atau hanya membasahi jalanan pun, Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung sudah tidak layak lagi. Mulai dari hulu hingga hilir, kualitas air sungai yang membelah Bandung tersebut sangat mengkhawatirkan. Kepadatan penduduk di DAS Cikapundung tergolong tinggi rata-rata 122 jiwa per hektar dengan kepadatan tertinggi di Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal. Jumlah rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai, 6.837 RT, karena itulah, Sungai CIkapundung akan lebih parah lagi jika tidak ada pengelolaan sejak dini. Masyarakat bersama pemerintah harus bekerja sauyunan menjaga secara seksama pentingnya sungai nan indah dan sehat.

Roadmap Cikapundung Yang Berkelanjutan

Langkah Strategis Membangun Keberlanjutan

Kami menyadari bahwa untuk mencapai tujuan yang baik maka perlu ditempuh perencanaan strategis yang tepat. Untuk itu, kami berprinsip bahwa membangun kembali kelestarian Sungai Cikapundung tidak dapat mengenyampingkan keterlibatan pemangku kepentingan yang tinggal di DAS Cikapundung. Kami menganggap banyak situasi dan kondisi yang sudah ada/ diberikan yang diklasifikasikan mana yang dapat diperbaharui dan ditingkatkan terkait kualitas lingkungannya sehingga memberikan kontribusi pada peningkatan ekosistem air, kualitas, dan kuantitas air sungai yang lebih baik. Kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan merupakan Gerakan perubahan. Tujuannya adalah:

  1. Meningkatkan jumlah pemangku kepentingan yang menyadari pentingnya upaya konservasi sungai.

2. Meningkatkan jumlah titik konservasi di bantaran sungai.

3. Meningkatkan upaya produktif berbasis inovasi kelestarian.

4. Meningkatkan social branding dari inisiatif.

Dengan menetapkan tujuan program yang kami jalankan seperti diatas, maka indikator perubahan yang ingin kami bangun adalah:

  • Semakin luasnya area bantaran sungai yang terkonservasikan
  • Semakin banyaknya pemangku kepentingan di DAS Cikapundung yang mengelola sampahnya sendiri serta berkontribusi untuk kelestarian sungai
  • Semakin bertumbuh usaha produktif berbasis lingkungan
  • Ada capaian cukup signifikan peningkatan ekosistem sungai dan kualitas air

Langkah Lanjutan Mewujudkan Tujuan

Ada tiga rencana besar sebagai backbone dari roadmap Cikapundung yang berkelanjutan, yaitu, program terbaik yang berkelanjutan (sustainable best practices), kemitraan yang berkelanjutan (sustainable best practices), kemitraan yang kokoh (sustainable partnership) dan kampanye & social branding yang berkelanjutan (sustainable communication).

Program Terbaik yang Berkelanjutan

Bertujuan untuk melanjutkan program yang sudah berhasil dijalankan menjadi skala yang lebih luas sehingga cakupan dampak positif semakin luas, mengembangkan program yang lebih menekankan upaya konservasi berbasis pemberdayaan lingkungan. Program tersebut seperti konservasi mata air kota, edukasi kelestarian sungai, smart tourism, dan usaha produktif berbasis lingkungan.

Kemitraan yang Kokoh

Bertujuan untuk menjalankan program edukasi dan sosialisasi visi dan misi ke pemangku kepentingan sehingga dapat bekerja sama diberbagai program yang diminati. Melalui kemitraan ini akan terbangun sinergi kepentingan yang sama sehingga kedua belah pihak mendapatkan manfaat yang optimum.

Kampanye & Social Branding yang Berkelanjutan

Bertujuan untuk menyeberluaskan semangat urban diversity ke seluruh lapisan masyarakat baik nasional maupun internasional sehingga semakin banyak pihak yang tumbuh kesadaran lingkungannya. Melalui program ini, kami menyeruakan tentang berbagai progress dan keberhasilan yang telah dicapai. Platform yang dimanfaatkan adalah social media dan mobile apps.

Program Lainnya

Menyatukan lingkungan alam dan lingkungan budaya di lingkungan bantaran sungai Cikapundung, terutama di kawasan Cibarani.

Pelatihan Perencanaan Partisipatif & Pemberdayaan masyarakat lokal.

Memanfaatkan lahan yang ada, kami bersama masyarakat siap menjaga ketahanan pangan kota Bandung.

Mengenalkan dan membudidayakan serta konservasi terhadap seni dan budaya lokal.

Hasil dari Urban Farming (Buruan SAE) yang kemudian di pasarkan di area Waterfang Leuwilimoes.

Penghargaan