+62 821-1898-9798

Kampung Edukasi Wisata

Program Kami

Pengelolaan kebersihan di Kota Bandung merupakan tanggung jawab pemerintah dan juga masyarakat

Lingkungan dan manusia menjadi dua komponen yang tidak bisa dipisahkan, manusia membutuhkan lingkungan untuk menjalani kehidupannya dan lingkungan membutuhkan manusia untuk merawatnya. Namun dewasa ini dalam pemenuhan kehidupannya terkadang manusia lupa akan kewajiban dalam menjaga lingkungan, sehingga banyak masalah-masalah lingkungan hidup yang disebabkan oleh perilaku-perilaku manusia. Rendahnya kebersihan sungai di wilayah Jawa Barat menjadikan sungai tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, airnya tidak bisa digunakan dan ekosistem di dalamnya pun sudah punah seperti yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung.

Hilangnya fungsi dan peran sungai di kota akibat meningkatnya populasi

Hilangnya fungsi dan peran sungai di kota tersebut disebabkan oleh meningkatnya populasi penduduk yang berakibat pada meningkatnya volume sampah di wilayah Bandung. Peningkatan volume sampah ini di dukung dengan perilaku masyarakat yang buruk salah satunya yaitu kebiasaan membuang sampah dan limbah langsung ke sungai yang berujung pada tercemarnya sungai dan populasi di dalamnya.

Melalui konsep konservasi lingkungan, komunitas mengajak masyarakat menyelamatkan dan mengelola sungai Cikapundung

Jika menelisik Kembali aturan hukum Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 27 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kebersihan di Kota Bandung yang merupakan tanggung jawab pemerintah dan juga masyarakat, maka disana tertera secara jelas, bahwa masyarakat memiliki peran yang bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara kelestarian. 

Kampung Edukasi Wisata

Adapun ide yang akan diangkat oleh Perkumpulan Relawan Masyarakat Kreatif Kampoeng Tjibarani adalah suatu bentuk pengembangan kampung edukasi wisata dengan menyatukan secara harmonis sumber daya alam, teknologi dan manusia guna mencipatakan keseimbangan terhadap lingkungan. Masyarakat dan berbagai pihak dapat diuntungkan namun tidak mengabaikan kepentingan terhadap lingkungan. Antara lingkungan alam dan lingkungan budaya di lingkungan bantaran Sungai Cikapundung terutamanya sebagai salah satu potensi pengembangan wisata berbasi ekologi dengan memaketkannya dengan model pemberdayaan melalui partisipasi masyarakat yang berkelanjutan. Kegagalan program pemberdayaan pada masyarakat, salah satunya disebabkan karena minimnya partisipasi masyarakat. Sebenarnya masyarakat lokal sangat antusias membangun wilayahnya, mereka dapat menyusun program pembangunan yang benar-benar dapat memecahkan masalah yang sedang mereka rasakan. 

Masyarakat lokal menjadi salah satu pemegang peranan penting dalam pengembangan program penataan lingkungan maupun pengembangan pariwisata

Hal ini disebabkan karena mereka yang menyediakan hunian, kebersihan dan keindahan lingkungan, sekaligus dapat menjadi pemicu masalah maupun perusak lingkungan jika mereka tidak dilibatkan secara partisipatif, sementara partisipasi tersebut sangat diperlukan agar kawasan bantaran tersebut dibingkai dengan kesadaran yang tinggi dan tekad mempertahankan ekosistem.

Masyarakat yang bersangkutan lebih mengetahui masalah yang dihadapinya

Alasan melibatkan masyarakat mulai dari proses perencanaan sampai pada kegiatan adalah dengan asumsi bahwa masyarakat yang bersangkutanlah yang lebih mengetahui masalah yang dihadapinya, sehingga diharapkan dapat memutuskan ketergantung dengan pihak luar. Oleh karena itu, masyarakat lokal harus dilibatkan mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan dan monitoring evaluasi secara partisipatif. Oleh sebab itu, program pemberdayaan membutuhkan pendampingan fasilitator terutama pada program penguatan ekonomi/ usaha kelompok, sehingga program tersebut sustainable dan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan (Muhammad, 2014:3).

“Bagaimanapun pintarnya seorang professor dari luar, dia tidak dapat mengetahui dengan tepat masalah masyarakat lokal”

Dengan perkataan lain bahwa masyarakat lebih mengetahui sedang sakit apa dari pada seorang dokter dari luar daerahnya. Program yang tidak melibatkan mereka bisa saja diagnosanya menjadi keliru, sebagaimana contoh bahwa “masyarakat sakit perut bantuan dari luar, obat sakit gigi” ini sangat memprihatinkan dan merupakan musibah kalau dibiarkan berlarut.

Oleh karena itu, asumsi yang dibangun melalui pemberdayaan dengan pendekatan kelompol (Sjafari, 2014:7). Kelompok usaha

yang akan diberdayakan adalah kelompok ekonomi masyarakat yang kurang mampu dan penguatan kelembagaan ekonomi. Pemberdayaan yang dilakukan ini merupakan usaha sadar, terencana, sistematik dan berkesinambungan untuk membangun kemandirian sosial ekonomi dan politik masyarakat, dan mampu mengelola potensi sumber daya yang mereka miliki untuk mencapai kesejahteraan sosial yang bersifat berkelanjutan (Kusnadi, 2009:30).

Penerapan Paradigma Baru

Oleh karena itu, penerapan paradigma baru sebagaimana (Chambers, 1996:19) lebih dimungkinkan tercipta pemberdayaan dalam masyarakat. Pemberdayaan diartikan sebagai penguatan masyarakat dengan cara memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat agar menggali potensi dirinya dan berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya. Caranya antara lain dengan Pendidikan yang bertujuan untuk penyadaran.

Sejalan dengan hal tersebut, sebagaimana Mitchell (2000:253) menyatakan bahwa aspek kunci dalam pembangunan berkelanjutan, meliputi pemberdayaan masyarakat lokal,

swasembada dan keadilan sosial. Pada ketiga aspek ini, pemberdayaan masyarakat lokal merupakan keikutsertaan masyarakat lokal dalam berpartisipasi mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, sampai pada level monitoring dan evaluasi. Masyarakat lokal yang lebih memahami tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Selama ini konsep pemberdayaan senantiasa didominasi oleh professional dari sektor pemerintah maupun perguruan tinggi yang senantiasa mengabaikan pengalaman, pengetahuan dan pemahaman berbagai kelompok masyarakat lokal.

Luaran bagi Pemerintah Daerah

  • Lahirnya Model Pengembangan Wisata Berbasis Kawasan dan Ekowisata
  • Menciptakan peluang upaya ketahanan pangan yang berkelanjutan
  • Memiliki warga masyarakat yang mempunyai pengetahuan praktis tentang perencanaan partisipatif, dan
  • Terbentuknya kampung wisata dan edukasi sebagai salah satu asset pendapatan daerah.

Penyelesaian Masalah

Dari fenomena yang terjadi di bantaran Sungai Cikapundung adalah pencemaran lingkungan dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keberlangsungan lingkungan. Selain itu, proses marjinalisasi dalam masyarakat atas berbagai program pemberdayaan yang dinikmati orang-orang tertentu, sehingga masyarakat lokal acapkali terpinggirkan.

Dengan fenomena ini, diperlukan suatu penyelesaian masalah secara komprehensif dan integral. Oleh sebab itu kegiatan ini dilakukan dengan 3 (tiga) kegiatan:

Memanfaatkan lahan yang ada, kami bersama masyarakat siap menjaga ketahanan pangan kota Bandung.

Pelatihan Perencanaan Partisipatif & Pemberdayaan masyarakat lokal.

Hasil dari Urban Farming (Buruan SAE) yang kemudian di pasarkan di area Waterfang Leuwilimoes.

Penghargaan